Jumat, 22 Juli 2011

kisah Classick untuk masa Depan


Kisah Classik Untuk Masa Depan
By : Sheila On 7

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

Reff:
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti...

Ke: Reff

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Sejarah komputer


SEJARAH KOMPUTER


      Awal mula komputer di buat oleh seorang profesor matematika Inggris, Charles Babbage (1791-1871). Babbage memperhatikan kesesuaian alam antara mesin mekanik dengan matematika, yaitu mesin mekanikbaik dalam mengerjakan tugas yang sama berulang kali tanpa kesalahan, sedang matematika membutuhkan repatisi sederhana dari suatu langkah-langkah tertentu. Pada tahun 1822, Babbage mengusulkan suatu mesin untuk melakukan perhitungan persamaan differensial. Mesin tersebut di namakan Mesin Differensiasi. Dengan menggunakan tenaga uap, mesin tersebut dapat menyimpan program dan dapat melakukan kalkulasi serta mencetak hasilnya secara optimis.

     Adapun perkembangan tekhnologi komputer dapat dikelompokkan sebagai berikut ;

1.     Komputer Generasi Pertama

Computer tahun 1940  – 1959
 

     Komputer generasi pertama memiliki ciri khas bahwa intruksi operasi di buat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu. Setiap komputer memiliki program kode-biner masing-masing yang berbeda. Hal ini menyebabkan komputer sulit diprogram dan dibatasi kecepatannya.

2.      Komputer Generasi kedua

Computer tahun 1959 - 1964

    Transistor mulai digunakan di dalam komputer mulai pada tahun 1956. penemuan lain yang berupa pengembangan memori inti-magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat di andalkan dan lebih hemat energi di banding para pendahulunya.

3.     Komputer Generasi Ketiga

Computer tahun 1964 – awal 80 - an


    Transistor menghasilkan panas yang cukup besar, sehingga dapat berpotensi merusak bagian-bagian internal komputer. Oleh karena itu, Jack Kilby, seorang insinyur di texas Instrumen, mengembangkan sirkuit terintegrasi(IC: integrated circuit ) untuk mengatasi masalah tersebut. IC mengkombinasikan 3 komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa.

4.     Komputer generasi Keempat

Computer tahun 80-an


    Setelah terciptanya IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas, yaitu mengecilkan ukuran sirkuit dan komponen-komponen elektronik. Large Scale integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah chip.

5.     Komputer Generasi Kelima

Computer tahun 2000 – 2005


    Komputer generasi kelima sedang dalam pengembangan dan untuk mendevisinikan komputer generasi kelima menjadi lebih sulit karena tahap ini masih muda.

Pewayangan


Drupadi  dan Srikandi

Pandawa dan Punakawan segera ikut membantu mempersiapkan upacara pembakaran jenasah yang akan dilakukan untuk Raden Gandamana. Tampak Dewi Drupadi dan Dewi Srikandi serta Raden Drustajumena menangisi kepergian paman mereka.
Dewi Drupadi tidak berani menatap ke Bratasena yang ternyata tinggi dan besar sekali itu. Demikian juga Srikandi selalu berpura-pura sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dan tanpa disadari tiba-tiba begitu banyak gadis dari keputren membantu mempersiapkan upacara itu, kelihatannya semua gadis di kerajaan ini ingin melihat lebih dekat Satria muda berwajah sangat tampan itu.
Pada malam hari di halaman istana semua sudah siap untuk upacara pembakaran mayat. Dibawah sinar bulan purnama semua orang berkumpul dan berdoa kepada dewa agar menerima arwah Raden Gandamana. Permaisuri kerajaan, Dewi Drupadi dan Dewi Srikandi yang masih saja menangisi tiada henti. Permadi yang belum kenal dengan Srikandi mencoba menghibur Srikandi agar tidak terlalu bersedih hati. Srikandi yang gundah itu bercampur aduk perasaannya antara sedih, senang, resah dan berdebar-debar, demi dilihatnya Satria tampan itu menghiburnya.
Setelah acara pembakaran mayat itu Dewi Drupadi tidak dapat tidur, apakah ia akan bisa menjadi isteri dari Satria tinggi besar yang bernama Bratasena itu. Satria itu memang terlihat baik, namun sebenarnya dalam hatinya ia menginginkan seorang suami yang tidak suka bertanding, berkelahi, membunuh orang, atau berperang. Dia menginginkan seorang laki-laki yang agung dan suci hatinya dan mencintai kedamaian. Demikian juga dengan Dewi Srikandi malam itu tidak dapat tidur memikirkan Satria tampan bernama Permadi adik sang Bratasena. Apakah rombongan mereka akan segera pulang ke asalnya?.
Keesokan harinya Bratasena dan para Pandawa menghadap kepada Prabu Drupadi dan menjelaskan semua bahwa mereka sebenarnya adalah Pandawa putera Prabu Pandudewanata dan bahwa Bratasena sebenarnya mengikuti pertandingan ini bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk kakaknya yang bernama Puntadewa yang saat ini sedang menjaga ibu mereka dihutan, itu juga sesuai dengan pesan ibunya Dewi Kunti. Prabu Drupadi mengangguk-angguk dia telah sering mendengar tentang Pandudewananta raja Astina itu yang saat ini kerajaannya dikuasasi oleh Kurawa anak-anak Desterata kakak dari Pandudewanata, Padahal mereka semua diasuh dan dilatih oleh guru yang sama yaitu Pendeta Durna, atau si Bambang Kumbayana, saudara sepupunya dari negeri atas angin yang menyusul dirinya ke tanah Jawa ini.
Demi mendengar bahwa ternyata putrinya akan dinikahkan dengan seorang Putra Mahkota kerajaan Astina Pandudewanata, yang bernama Puntadewa, Permaisuri kerajaan ibunda Dewi Drupadi bergegas minta diri ke belakang dan segera memanggil anaknya Dewi Drupadi, dan sambil mereka duduk di kursi menjelaskan bahwa dia tidak akan menikah dengan Bratasena melainkan dengan Puntadewa putera sulung Prabu Pandudewanata.
“Apakah kamu tidak apa-apa putriku?” bertanya ibunda permaisuri. “Aku hanya pasrah pada kehendak Dewa ibu, apabila hal itu telah menjadi kehendak Dewa maka aku tidak berkebaratan ” demikian jawaban Dewi Drupadi dengan dada yang berdebar-debar, siapa lagikah si Puntadewa itu, ternyata mereka adalah putera-putera raja. Ah dimanakah mereka kini tinggal. berbagai pertanyaan timbul dalam benak Drupadi.
Sementara itu Prabu Drupada telah menjelaskan kepada Bratasena bahwa hal itu akan diserahkan kepada Dewi Drupadi sendiri apakah dia besedia menjadi isteri orang lain yang tidak ikut dalam dari Sayembara ini. Karena saat itu ia teringat bagaimana bersemangatnya putrinya itu berteriak-teriak memberi semangat kepada Bratasena pada saat ia bertanding melawan Raden Gandamana.
Dalam pada itu masuklah Ibunda Permaisuri dengan Dewi Drupadi yang datang sambil menunduk. Kemudian Prabu Drupada segera menjelaskan maksud Bratasena mengikuti sayembara dan bertanya kepada putrinya apakah dia berkeberatan. Dewi Drupadi malu mengatakan hal yang sebenarnya, dan melihat kearah ibundanya untuk membantu menjelaskan. Ibundanya segera tanggap dan menjelaskan bahwa putrinya tidak berkeberatan dengan hal itu, asalkan itu benar-benar adalah kehendak Dewa.
Dan Ibundanya menjelaskan bahwa dari pembicaraan dengan putrinya, putrinya ingin agar Puntadewa datang sendiri ke Istana untuk bertemu dengan Prabu Drupada dan menyampaikan keinginannya.
Bapa Semar ikut bicara demi mendengar hal itu, dia bersedia untuk menyampaikan segalanya kepada momongannya Puntadewa agar dia mau datang sendiri ke Istana Cempalareja. Selanjutnya rombongan Pandawa meminta diri untuk kembali ke Hutan Amarta dan menyampaikan berita itu kepada Puntadewa dan Ibu Dewi Kunti.
Mendengar rombongan pandawa akan pulang eminta diri Srikandi berlari secepat kilat kebelakang dan segera mengambil bungkusan makanan yang telah dipersiapkan dari tadi kalau-kalau mereka akan pulang hari ini. Dengan malu-malu Srikandi memberikan bekal itu kepada Permadi. Permadi yang bisa merasakan bahwa putri raja adik Drupadi ini sangat tertarik kepadanya menerima bungkusan itu dengan senang hati, kemudian memberikan kepada punakawan untuk membawakan makanan itu sambil berterima kasih. Kemudian mereka mulai berangkat pulang kembali ke Wanamarta.